Tampilkan postingan dengan label Dream Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dream Journal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

Satu Malam 2 Lucid

Awalnya karena ada acara sekolah sampai malam, saya pulang sekolah sekitar pukul 10.30, rasanya capek sekali. Namun sampai dengan tengah malam, saya tidak bisa tidur. Setelah hanya berguling guling kesana kemari, tepat pukul 00.30an pagi, saya tertidur.

Saya ada di ruang perpustakaan atas di sekolah saya. Banyak orang disana, Cicut (teman saya) memakai baju kuning, Ghea dengan baju putihnya, dan banyak orang tengah memakai batik. Mereka ada yang berdiri, ada pulang yang duduk. Saya mendapatkan banyak percakapan, namun saya tidak bisa mengingat semua percakapan itu. Ketika itu saya belum sadar saya tengah bermimpi. Kemudian saya mengisi sesuatu di lembarang kertas. Ketika itu pula saya terbelalak sadar.. "Tunggu, ini kan acara Farewell party tadi. Aku udah mengalaminya, Ini mimpi"

Kemudian saya terbangun. Jam menunjukan pukul 1 pagi.

Saya kemudian melanjutkan tidur.

Saya berada di ruang perpus atas di sekolah saya. Semua orang tengah duduk di kursi masing masing. Saya duduk di pojok, di sebelah kanan saya ada Riris dengan baju ungunya, di sebelah riris ada Cicut dengan baju kuningnya, dan di sebelah Cicut ada Ghea dengan baju putihnya. Kami sempat berfoto foto, kemudian Riris mengatakan akan menunjukan sesuatu, kemudian dia mengotak atik kamera digitalnya.. namun yang saya lihat hanya layar hitam kosong. Kemudian terbelalak..."Ini mimpi"
Saya mencoba mengatur ruangan, kubuat semua yang ada di ruangan ini mematung. Dan itu terjadi. Tak berapa lama gambaran di sana sedikit buram, namun saya tetap mengusahakan konsen. Saya mencoba terbang,..dan benar saya terbang. Saya terbang di atas mereka. Tiba tiba sebuah getaran kecil terjadi..saya tiba tiba sudah berada di pinggir lapangan besar SMA saya. Malam  hari telah tiba.. saya ingat, ini pemandangan saya ketika saya pulang dari farewell party tadi malam. Saya masih terbang, di sana sangat sepi.

Kemudian saya bangun. Jam menunjukan pukul 2 dini hari.

Kuil dan Kutukan..

26 Oktober 2012
Ini mimpi di siang hingga sore hari, aku tertidur 4 jam..

Bersetting di sebuah kuil bernuansa jepang di musim gugur (karena banyak daun berguguran), aku dan ketiga temanku berjalan jalan disana. Aku tidak mengenal mereka semua, tapi sepertinya kita berempat sangat akrab.
Kami masuk dengan mengelabuhi penjaga, dan tanpa menggunakan tiket. Kami masuk ke kuil, minimalis sekali di dalam. Pintu geser berwarna nila pudar, kayu kayu coklat kokoh terbentang di sepanjang koridor kuil lengkap dengan ukiran ukiran di ujungnya, pinggiran atap yang di susun begitu rapih selayaknya sebuah kuil yang megah, serta taman batu dan bonsai bonsai kecil di tengah tengah koridor yang berbentuk kotak terasa begitu nyata. Perpaduan warna yang begitu menyenangkan hati.
Tiba tiba seorang teman laki-lakiku mengajakku memasuki sebuah ruangan aneh, ia bertubuh sedang dengan kemeja putih bergaris coklat, rambutnya ikal, wajahnya oriental sekali, namun pembicaraan kami selayaknya teman yang sudah sangat dekat.
Ruangan aneh yang dia masuk ada di sebelah ujung koridor, pintunya tertutup rapat. Entah dari mana aku menyadari bahwa pintu itu tidak boleh di buka. Tapi kemudian ia menyeretku masuk, kedua temanku tertinggal di belakang, sepertinya mereka tidak menyadari bahwa kami berdua telah pergi. Begitu di bukanya pintu itu, hanya ada sebuah ruangan kosong dengan sebuah pintu besi besar dengan tonjolan-tonjolan kuningan sebesar kepalan tangan di setiap sudut pintu itu. Temanku membuka pintu itu dengan sangat semangat, aku menyuruhnya agar segera keluar dan menghentikan pekerjaannya itu. Namun ia menghiraukanku. Setelah pintu itu terbuka, hanya terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan bayangan temanku. Namun raut muka temanku langsung ngeri dan syok, tiba tiba banyak sekali makluk yang menyerupainya.. satu..dua..tiga.. empat.. lima.. terus bertambah hingga aku tak bisa menghitungnya lagi. Aku panik dan mencoba keluar dari sana, namun tiba-tiba muncul pula kloninganku. Mereka terus bertambah banyak dan lebih banyak lagi. Aku berlari menuju dua temanku di luar, namun sebelum mengatakan apapun kepada mereka, mereka telah kabur keluar dari kuil. Aku hanya dapat syok dan ber diam di tempat.

Mulai dari sini aku bukanlah tokoh utama.
Kedua temanku kabur hingga pertigaan jalan di luar kuil, napas mereka tersengal. Satu di antara mereka merebahkan kepalanya di dudukan sepeda fixie berwarna orange. Dari belakang jalan, muncul sebuah bis dengan membawa banyak rombongan wisata, mereka semua anak SMA. Kedua temanku hanya bisa menata bis itu dengan ngeri dan pergi menjauh dari kuil, dan tak kembali lagi.
Didalam bis itu, keluar begitu banyak orang. Setelah memberi karcis, mereka masuk ke kuil dengan senang dan damani. Namun muncul dua orang anak perempuan, salah satunya memakai topi rajutan wol yang menutupi kupingnya, sepertinya untuk menahan hawa dingin, kedua perempuan itu berambut pirang panjang bergelombang, sepertinya pirangnya di cat-bukan alami. Mereka berdua memasuki koridor yang sebelumnya ku lewati, beberaoa anak mengikutinya di belakang, tiba tiba banyak sekali pelayan yang melayani mereka, membagikan minum dan cemilan. Wajah dari pelayan pelayan itu mengerikan, seperti meleleh dan berwarna biru tua. Kusadari bahwa mereka analah kloninganku dan temanku. Aku dan temanku kini menjadi tidak terlihat, tapi wujud kami tetap sama seperti sebelumnya, kami berdua terbang berjalan-jalan mengikuti dua perempuan itu. Mereka memasuki ruang yang sebelumnya aku dan temanku masuki, ruang terkutuk.. Mereka kemudian menemukan apa yang membuat kami seperti ini...cermin.

Dan setelah itu aku terbangun. Jam menunjukan pukul 4 sore. Aku terbangun dan langsung meneguk air putih di meja. Tumben sekali aku mengingat begitu banyak hal.

Terbang..

Aku berlari di sebuah tanah lapang yang di selingi oleh beberapa pohon berkanopi rendah, sangat nyaman. Aku merasa aku ingin berlari, kemudian aku berlari...
Aku melihat sebuah tebing indah dan sangat curam. Aku berlari menuju tebing, menjatuhkan diri dan terbang..terbang tinggi.. tinggi sekali..
Kupijakkan kakiku di atas sebuah tanah seakan ingin melompat, namun lompatanku sangat tinggi dan aku terbang lagi.. jauh lebih tinggi dari sebelumnya..
Antara takut jatuh dan bahagia yang tiada kira...
Berkali kali aku melompat dan terbang.. hingga yang terakhir kali penerbanganku aku merasa aneh..  ketika sudah sangatttt tinggi, aku terjatuh.

Kemudian aku terbangun, dengan sedikit goncangan..

Kamis, 25 Oktober 2012

Jabat Tangan..

24 Oktober 2012 (sore hari)

Dalam mimpi ini.. aku hanya tidur sekita 15-20 menit saja, tapi masih sempat bermimpi..
Berlatar belakang di tempat bimbingan belajarku di Primagama Purworejo, tepatnya di ruang nomor 3. Tepat di depan jendela kaca berbingkai biru, dan beberapa kursi lipat yang berjajar rapi secara horizontal.
Tidak ada orang disana, hanya ada dua buah tangan. Yang satu adalah tanganku, yang satu entah tangannya siapa. Kami berjabat tangan secara mantap selama sekian detik.. Ruangan itu sepi, tapi sinar matahari menerobos masuk dari jendela. Sepertinya ini antara siang-sore hari.. itu adalah jadwal les saya setiap minggunya. Sekitar pulu setengah 3 sore.
Setelah itu aku terbangun, dan adzam maghrib berkumandang..

Terowongan...

Lagi lagi aku tidak menyertakan tanggal..

Aku sedang berada di terowongan gelap gulita. Terlihat di ujung terowongan ada sebuah cahaya kecil yang sepertinya adalah jalan keluar dari terowongan ini.
Awalnya aku hanya berjalan pelan menuju cahaya itu, suasana di terowongan sangat sepi.. namun terasa seperti ada hawa hanya mengerikan keluar dari dinding kegelapan itu..
Aku sedikit takut dan mempercepat langkahku, namun hawa mengerika itu semakin kuat. Aku berlari sekencang mungkin, namun cahaya itu justru menjauh dariku, semakin jauh. Aku seakan tidak bergerak dari tempat awalku. Ini mengerikan! pikirku.
Aku terus berlari namun keadaannya tidak berbeda dari sebelumnya, aku tetap berada di terowongan penuh kegelapan, dan cahaya itu terus menjauh dariku. Aku putus asa dan menghentikan pelarianku, melihat ke sekelilingku yang serba hitam. Ngeri..

Dan seketika itu aku terbangun..

Darkness...

Aku lupa ini terjadi tangggal berapa, namun mimpi ini datang berulang kali selama beberapa tahun.. Ketika aku masih kecil, aku selalu menangis jika mendapatkan mimpi ini lagi... Namun ketika sudah besar, aku hanya syok sebentar..dan menyadari bahwa aku sedang bermimpi..

Aku ada di sebuah ruangan tanpa sudut, semua hitam.. bahakan aku tidak bisa memprediksi seberapa luas ruangan itu. Aku sendirian dan hanya bisa berdiri mematung, memandang kekosongan yang tiada akhir.
Tiba tiba muncul banyak kartu kartu besar di depanku, muncul pula tangan yang besar yang menggerakan jari jari tangannya. Tangan itu sebesar tubuhku, dan hanya sampai dengan pergelangan tangan, kulitnya berwarna kuning langsat, dan sepertinya itu adalah tangan laki-laki, karena tulangnya terlihat menonjol.

Tangan itu mengajakku bertaruh, peraturannya jika aku kalah aku akan menanggung sebuah beban yang sangat berat. Jika aku kalah lagi, beban itu akan dua kali lipat lebih berat, jika aku kalah lagi, beban yang sebelumnya telah di gandakan, akan di gandakan lagi dua kali lipat dari itu, dan begitu seterusnya jika aku kalah.

Aku menyetujuinya.
Dalam tahun tahun awal, aku lupa dengan apa aku bertaruh.. namun samar samar ada bayangan kasur dan sprey yang biasaada di kamar ibuku. Dan di tahun terakhir kali aku mendapat mimpi ini, aku bertaruh dengan cara  suit jari..
Setiap tahun aku selalu kalah, beban itu terasasangat berat. Namun bukan beban fisik yang kudapat, tadi hati. Terasa sangat sesak, tambah sesak.. dan selalu sesakkk sekalii.. hingga aku tak kuat berdiri dan hanya bisa menangis..
Aku panik, dan memintanya ntuk segera berhenti dari pertaruhan ini. Namun tangan itu tidak menghiraukanku, ruangan yang gelap itu menambah suasana ngeri di diriku dan beban hati itu menjadi berlipat ganda lagi, lagi , dan lagi tanpa henti..
Ketika kepanikanku sudah menjadi jadi..aku terbangun dari mimpi dan kembali ke dunia nyata. Tubuhku langsung berkeringat dan panik.

Maraton..

24 Oktober 2012

Aku dan beberapa teman temanu sedang bermaraton, namun setting tempatnya adalah jalanan yang pernah kulihat di anime K-on ketika Yui sedang bermaraton. Jalannya berwarna abu-abu, di samping kanan aku berlari ada tembok yang membatasi antara jalan dengan taman. Tembok itu bertekstur bebatuan dan berwarna abu-abu. Dari banyak orang yang ada di sana, aku hanya mengenali seorang temanku, namanya Intan. Dia berlari bersamaku.

Tiba tiba kamu telah mencapai finish, finisnya adalah SD tempat aku belajar dulu. Aku dan Intah memasuki gerbang SD yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter, gerbangnya di cat coklat, dari sana terlihat sama seperti yang aslinya.. berseberangan dengan jalan raya yang ramai oleh kendaraan yang melintas, dan di seberang jalan lagi ada bangunan rumah besar berwarna putih, sebuah gedung yang menjual montor, sebuah bengket, dan warnet. Dari sana juga terlihat orang orang bengkel yang sibuk dengan pekerjaan mereka..

Intan duduk kecapean di bawah pohon beringin di halaman SD, yang lain juga telah sampai.. di sana entah aku atau intan yang meminta minum, aku lupa. Lalu intan meluruskan kakinya..
Aku memintanya untuk menemaniku ke toilet.. ia menyetujuinya, lalu kita berjalan di sepanjang halaman

Kemudian aku terbangun..

Jatuh..

26 Oktober 2012

Ada adik kelasku disana, namanya Indah. Dia mempunyai seorang kekasih yang jauh disana. Entah kenapa tiba-tiba kekasihnya dia ada di dalam sebuah layar monitor tv tanpa kabel, latar belakangnya hanya sebuah tembok dan lantai berwarna putih. Tv-nya seperti model tv laun 80an, tapi gambarnya berwarna.
Kekasihnya tergambar seperti karakter komik yang marah, matanya menatapku tajam. Menyuruh indah untuk tidak percaya kepadaku. Kuisyaratkan pada indah untuk mempercayaiku bahwa ia harus meninggalkan kekasihnya dan kembali ke dunia nyata. Namun indah terlihat bingung, ia menatapku dan layar tv secara bergantian. Tiba tiba kekasihnya yang ada di dalam tv mengeluarkan sebuah ganggang sapu lidi, di keluarkannya selayaknya ia memegang sebuah pedang samurai.

Kemudian, secara tiba-tiba, aku dan indah ada di atas sebuah kasur berwarna pink.. ku sadari itu adalah kasur tidurku yang biasa ada di kamarku. Kasur itu berjalan selayaknya mobil, jalan yang kami lewati berupa jalan kecil beraspal yang bergelombang naik turun seperti ombak, di sepanjang jalan yang kami lewati ada beberapa rumah dan halaman rumah yang sepertinya pernah kulihat ketika aku sedang bepergian di daerah Gunung Kidul di dunia nyata....
Kasur itu masih bergerak, semakin cepat.... semakin cepat.. dan semakin cepat...
Aku dan indah berpegangan di tepi kasur sambil berteriak meminta tolong. Tiba tiba aku melihat jalan yang kita lewati akan mencapai jalan buntu..
Jalan buntu itu mengarah ke arah laut lepas dan di bawahnya merupakan semuah tebih yang sangat curam.. Langit terlihat biru segar dari sana.

Aku dan indah terjatuh bersama dengan kasur yang kami kendarai, ketika sedang terjatuh.. aku melihat ada sebuah kolam renang di bawah kami, lengkap dengan beberapa orang sedang bermain air dan bola pantai.. Tapi sayangnya tempat aku dan indah jatuh tidak di atas kolam renang, tapi di sisinya yang merupakan tanah keras.
Sebelum sampai di atas tanah, aku terbangun dari mimpi.

Alarm menunjukan jam 2 pagi hari, kucubit tanganku dan merasakan sakit, kini aku berada di dunia nyata kembali.